Uni kebudayaan dan bahasa dari setiap negara anggota

Topics: BusinessOrganization

Type:

Sample donated:

Last updated: September 26, 2019

            UniEropa terbentuk melalui satuan proses yang cukup panjang. Uni Eropa ini hadirsebagai aliansi supranasional dari negara – negara yang berdaulat.

Hadirnyagagasan untuk mendirikan Uni Eropa ini diprakarsai dengan adanya pemikiranuntuk menghentikan peperangan setelah terjadinya Perang Dunia II. Pada 25 Maret1957, terdapat enam negara yang berperan penuh dalam rangka berdirinya UniEropa meliputi Belgia, Italia, Luxemburg, Prancis, Belanda, dan Jerman.1 Punterdapat 13 founding fathers yangmemberikan peranan besar dalam terbentuknya Uni Eropa meliputi Konrad Adenauer,Joseph Bech, Johan Willem Beyen, Winston Churchill, Alcide De Gasperi, WalterHallstein, Sicco Mansholt, Jean Monnet, Robert Schuman, Paul-Henri Spaak, dan AltieroSpinelli.2 Orang– orang tersebut telah memprakarsai berdirinya Uni Eropa dengan cita – cita yangseragam yakni untuk membentuk Eropa yang penuh dengan perdamaian, makmur, danmampu bersatu seutuhnya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dalam perjalanannya,Uni Eropa menjunjung tinggi slogan unitedin diversity ?menggambarkan komitmen para negara anggota Uni Eropa terhadapperdamaian dan kemakmuran dengan adanya perbedaan kebudayaan dan bahasa darisetiap negara anggota yang tergabung. Sejalan dengan itu, terdapat sebanyak 24bahasa resmi yang diakui dalam Uni Eropa. Tidak hanya itu saja, Uni Eropa pun kerapkalidijadikan sebagai pionir berkaitan dengan integrasi regional yang dijalankan. Halini didukung dengan adanya target dan nilai yang dijunjung oleh Uni Eropa itu sendiri.Kedua aspek tersebut telah tercantum di dalam Perjanjian Lisbon.

Dalamperjalanannya Uni Eropa ini mempunyai beberapa target yang hendak dicapai meliputi:(a) mendorong perdamaian dalam masyarakat; (b) Menjunjung tinggi kebebasan,keamanan, serta keadilan; (c) melakukan pembangunan yang berkelanjutan; (d)meningkatkan solidaritas antar negara anggota dalam segala aspek kehidupan; (e)memberantas segala bentuk diskriminasi; (f) mendukung adanya kemajuanteknologi; (g) menghormati perbedaan kebudayaan dan bahasa yang beragam; (h)mendirikan serikat perekonimian dengan mata uang euro.3Kemudian, terdapat nilai – nilai yang senantiasa dijunjung oleh Uni Eropa yaknihuman rights, human dignity, freedom,democracy, equality, dan rule of law.4Nilai – nilai tersebut tentunya memiliki makna yang mendalam bagi kemakmuranmasyarakat secara luas.Uni Eropa dapatdikatakan sebagai sebuah organisasi yang memegang peranan besar dalamperkembangan dunia internasional. Dalam ranah perdagangan global misalnya, UniEropa berada pada posisi yang utama perihal berjalannya perdagangan global yangada. Dengan menjalankan mekanisme single –market bersama dengan 28 negara yang tergabung, menjadikan Uni Eropamempunyai kekuatan perdagangan dunia yang sangat besar.

Dalam single – market ini Uni Eropa menjunjungtinggi empat kebebasan yang fundamental meliputi; (a) free movement of persons; (b)free movement of goods; (c) freemovement of services; (d) freemovement of capital.5Sejalan dengan empat hal tersebut, Uni Eropa pun telah terintegrasi ke dalampasar global. Tidak hanya dalam ranah perdagangan global saja, namun Uni Eropa memilikikekuasaan yang besar pada ranah lainnya dalam skala internasional. Teknologi,transportasi, energi, dan lingkungan menjadi ranah di mana Uni Eropa mempunyaikekuatan yang besar.

Penetapan Uni Eropasebagai model dari integrasi regional yang acapkali dikatakan paling maju,akhir – akhir ini mengalami berbagai krisis yang berkaitan langsung denganpermasalahan integrasi yang ada. Hal ini tentunya menyebabkan adanya keraguanyang cukup tinggi terhadap kualitas integrasi yang dimiliki oleh Uni Eropa itusendiri. Keraguan ini mencuat sejalan dengan adanya beragam permasalahan yang meliputi:(a) adanya upaya dari negara – negara anggota untuk memisahkan diri dari kesatuanUni Eropa maupun negara anggota Uni Eropa yakni kasus Brexit dan Referendum Catalonia; (b) Arus migran dan parapengungsi; (c) ancaman terorisme yang semakin meningkat; (d) krisis utang yangdialami Yunani dan munculnya kekhawatiran akan zona euro.6 Hal– hal tersebut telah menjadi tantangan dan rintangan yang baru – baru inidihadapi oleh Uni Eropa.

Permasalahan yang cukupmengguncangkan dunia internasional ialah perihal Britain Exit atau lebih dikenal dengan sebutan brexit. Peristiwa ini mulai mencuat sejak tanggal 23 Juni 2016. BritaniaRaya mengikrarkan untuk melepaskan diri dari Uni Eropa setelah tergabung selama43 tahun lamanya dalam naungan Uni Eropa.7 Padasaat dilakukan referendum, terdapat dua pilihan yang dihadapkan pada parapemilih yakni Britania Raya tetap tergabung dalam Uni Eropa atau memisahkandiri dari Uni Eropa. Sejalan dengan itu, keluarnya Britania Raya dari Uni Eropaini tidaklah hanya menjadi keputusan sepihak dari jajaran kerajaan BritaniaRaya saja. Namun, putusan ini diambil sebagai persetujuan atas hasil yangdiperoleh dalam referendum dengan hasil yang didapat meliputi 52 persenmenyumbangkan suaranya untuk melepaskan diri dari Uni Eropa dan 48 persen suaralebih memilih untuk tetap bergabung dalam naungan Uni Eropa.8 Tentunya, munculnyakeputusan dari Britania Raya untuk meninggalkan Uni Eropa ini tidaklahdilakukan tanpa alasan yang jelas. Sejalan dengan itu, terdapat empat alasankrusial yang agaknya mendorong Britania Raya untuk melepaskan diri dari naunganUni Eropa ini.

Keempat alasan tersebut meliputi:a)      UniEropa memiliki struktur yang bersifat semi – demokratis. Hal ini tentunya menyebabkansegala jenis pemilihan maupun proses pembuatan kebijakan Uni Eropa kerapkalitidak merepresentasikan permasalahan dalam cakupan luas anggotanya. Denganbegitu, suara dan aspirasi dari anggotanya acapkali tidak terlalu digubris. Halini tentunya tidak sejalan dengan prinsip awal dalam pendirian Uni Eropa itusendiri. Sejalan dengan itu, banyak negara – negara anggota yang merasa bahwakeanggotaannya tersebut tidaklah memberi makna terhadap berjalannya segalajenis keputusan yang diambil oleh Uni Eropa.b)      UniEropa memiliki struktur politik yang acapkali mengarah pada suatu sistem yang otoritermaupun otokratis.

Walaupun begitu, Uni Eropa pun tetap mengusung pahamdemokrasi sebagai suatu pilihan dalam penyelesaian masalah yang dihadapi.Dengan itu, dapat terlihat adanya ketidakstabilan dalam struktur politik UniEropa yang otoriter namun di sisi lain mengagung – agungkan demokrasi. Dengan jelashal ini menunjukan adanya ketidakjelasan dalam struktur politik yang dijalankanoleh Uni Eropa. Tentunya, struktur politik ini mempunyai peranan yang cukupbesar dalam kesatuan Uni Eropa itu sendiri. Jika struktur politiknya sajakerapkali memberikan kebingungan terhadap para anggota yang tergabung makabagaimana para anggota tersebut mampu memberikan kontribusi terbaiknya dalammemajukan Uni Eropa itu sendiri. c)      Hadirnyasistem yang otoriter yang berlebihan ini acapkali menjadi permasalahan yangcukup vital. Otoritas yang berlebihan dianggap akan menciptakan suatu keresahandi dalam sistem masyarakat.

Keresahan ini pun ditakutkan akan mampu memicukonflik dan kekacauan. Keresahan yang diberikan oleh sistem Uni Eropa tersebuttidaklah sejalan dengan konsep mengenai perdamaian dan kemakmuran yangseharusnya selalu dijunjung di dalam Uni Eropa itu sendiri. Tentunya sistem inimampu memberikan keragu – raguan baik dari negara anggota maupun negara yangbukan anggota terhadap integritas dari Uni Eropa itu sendiri. Tidak hanya itusaja, jika sistem yang seperti ini dibiarkan begitu saja, agaknya akan mencuatnegara – negara anggota lainnya yang mengikuti jejak dari Britania Raya untukkeluar dari naungan Uni Eropa. d)     Strukturdari Uni Eropa dirasa sangat ambigu. Hal ini didorong oleh adanya kenyataanbahwa dalam praktiknya Uni Eropa bersifat otoriter.

Namun, di sisi lain merekapun kerapkali mengupayakan hadirnya demokrasi. Pemilihan umum untuk memilihsatuan legislatif yang terjadi dalam Uni Eropa pun seringkali diwarnai denganketidakhadiran suara yang cukup tinggi. Selain itu, adanya latar belakangkepentingan yang beraneka ragam dari setiap negara yang tergabung dalam UniEropa mempersulit Uni Eropa itu sendiri dalam proses pembuatan kebijakan ataupengambilan keputusan, sehingga terdapat kesulitan yang cukup besar untukmenggapai kata kerjasama. Hal ini tentunya merupakan kelemahan dari strukturyang dijalankan oleh Uni Eropa.  KeputusanBritania Raya untuk melepaskan diri dari Uni Eropa berdampak pada integrasi UniEropa secara luas. Tidak dapat dipungkiri bahwa brexit ini mempengaruhi hubungan antara Inggris dengan negara –negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Keluarnya Britania Raya ini telahmenunjukan adanya permasalah disintegrasi dalam kesatuan Uni Eropa. Terdapatbeberapa aspek yang mendapatkan pengaruh dari brexit ini.

Aspek yang dimaksud yakni ekonomi meliputi hubunganperdagangan antara Inggris dengan negara – negara di Uni Eropa, investasi luarnegeri, kebijakan industri, kebijakan perdagangan, sampai pada urusanfinansial. Dalam dampak ekonomi ini, secara langsung Britania Raya akankehilangan akses terhadap single – marketyang ada dalam Uni Eropa. Terdapat pula sektor – sektor kunci yang mendapatpengaruh langsung dari terjadinya brexit ini yakni financial services, insurance sectors, migration, dan economy.9 Kemudian,hubungan yang seperti apa yang harus dilakukan antara Britania Raya dengan UniEropa pada masa mendatang. Tentunya dalam hubungan perekonomian, Britania Rayadan Uni Eropa akan tetap berinteraksi di bawah peraturan – peraturan yang telahtercantum dalam World Trade Organization ataukerapkali disebut WTO. Walaupun begitu, pertumbuhan ekonomi di masa mendatangberkaitan dengan brexit ini sangatlahtergantung pada empat faktor utama.

Keempat faktor ini meliputi: (a) Adanyareformasi yang dilakukan oleh Uni Eropa; (b) Hasil dari TTIP maupun berbagaiperundingan dan perjanjian perdagangan yang ada; (c) Sejauh mana Britania Rayahendak melakukan perubahan terhadap sistem perdagangannya menjadi perdaganganbebas yang deregulasi; (d) Hubungan yang seperti apa yang akan dijalankanBritania Raya berkaitan dengan single –market yang dimiliki oleh Uni Eropa.10 Setelahterjadinya brexit ini, kemungkinan Britania Raya untuk kembali bergabung padaUni Eropa dirasa sangat kecil. Hal ini diperkuat dengan adanya permasalahan –permasalah di dalam struktur politik Uni Eropa itu sendiri.

Dengan adanyapermasalahan tersebut, mendorong Britania Raya untuk tidak kembali bergabung kedalam Uni Eropa dirasa semakin kuat. Terlebih lagi dengan adanya kenyataanbahwa Britania Raya memiliki kekuasaan yang lebih besar setelah melepaskan diridari Uni Eropa. Tentunya hal ini semakin membuat keinginan Britania Raya untukkembali dalam naungan Uni Eropa semakin nihil. Permasalahanperihal integrasi di dalam negara – negara anggota Uni Eropa kemudian kembalimencuat. Setelah Britania Raya, muncul Catalonia yang mengemukakan keinginannyauntuk merdeka dari negara Spanyol. Catalonia merupakan sebuah wilayah di bagiantimur laut Spanyol yang memiliki penduduk sebanyak 7,5 juta orang. Pendudukyang berada di Catalonia ini menyumbang sekitar 15 persen dari populasi Spanyoldan sekitar 20 persen dari output perekonomiannya.Sebanyak 1,6 juta orang berdomisili di Barcelona yang menjadi ibukota dariCatalonia.

Barcelona ini telah dikenal sebagai tujuan utama dalam dunia pariwisata.Padatanggal 1 Oktober 2017, Catalonia mengadakan referendum kemerdekaan.11 Halini didukung oleh sejarah, kebudayaan, bahasa, politik, maupun perekonomianCatalonia yang cukup berbeda dan menonjol. Pada awal mula direferensikansekitar abad ke-12, wilayah Catalonia ini telah ada kurang lebih selama 250tahun sebelum kemudian bergabung dengan Spanyol selama proses pembentukannegara terkait pada abad 16. Sejalan dengan itu, identitas dari Catalonia inimemainkan peranan yang cukup besar dalam kaitannya dengan kemerdakaan. Keinginanuntuk merdeka memang telah lama disuarakan oleh pihak Catalunia. Namun,keinginan tersebut kerapkali ditolak oleh pemerintahan Spanyol. Penolakansecara terus menerus mengenai kehendak Catalonia untuk mengobarkankemerdekaannya membuahkan hasil yang kuat.

Terdapat sekitar 90 persen suarayang memilih untuk melepaskan diri dari pemerintahan Spanyol.12 Akantetapi, keputusan untuk melepaskan diri dari pemerintahan Spanyol dan deklarasikemerdekaan Catalonia tersebut agaknya dinyatakan tidak legal oleh MahkamahKonstitusi di Spanyol. Tanggapanperihal referendum Catalonia ini, tidak hanya muncul dari dalam negara Spanyolsaja. Namun, terdapat pula berbagai tanggapan yang beragam dari pihak – pihakluar. Salah satunya ialah Uni Eropa yang notabenenyasebagai salah satu organisasi supranasional. Berkaitan dengan referendumini, Uni Eropa lebih memilih untuk bungkam dan tidak menanggapi permasalahantersebut secara formal. Walaupun begitu, hadir kekhawatiran yang cukup besarterhadap kemungkinan terjadinya referendum ini. Agaknya, munculnya efek dominomenjadi salah satu hal yang cukup mengkhawatirkan Uni Eropa.

Wilayah – wilayahlain yang tergabung dalam Uni Eropa seperti Basque, Skotlandia, Belgia, Jerman,maupun Italia dikhawatirkan akan turut mengikuti jejak referendum yangdilakukan oleh Catalonia. Dengan begitu, kekhawatiran akan terjadinya efekdomino ini menjadi salah satu perhatian yang khusus dari pihak Uni Eropa.Sejalandengan hadirnya kekhawatiran tersebut, Uni Eropa memutuskan untuk tidakmengakui deklarasi kemerdekaan dari Catalonia. Pihak Uni Eropa menyebutkanbahwa perdebatan perihal kemerdekaan Catalonia ini merupakan krisis politikyang sangat butuk dalam kurun waktu beberapa decade terkahir.

Pun, hal inimenunjukan bahwa Uni Eropa tidak mendukung keputusan Catalonia untuk memisahkandiri dari pemerintahan Spanyol.PenolakanUni Eropa untuk ikut mendukung keputusan Catalonia ini tidak hanya ucapanbelaka. Namun, berbagai desakan untuk tidak mendeklarasikan kemerdekaanCatalonia kian dilaksanakan. Para pemimpin yang berkuasa di Catalonia acapkalididesak untuk tidak melaksanakan kemerdekaan yang telah dicanangkan sejak lama.

Pun, beragam pertemuan terus dilakukan oleh pihak Uni Eropa dalam rangkamenggagalkan usaha Catalonia untuk memisahkan diri dari Spanyol. Desakan yangdiberikan tidak hanya diperutuk bagi pihak – pihak yang berwenang di Catalonia.Akan tetapi, desakan pun diberikan terhadap pihak – pihak yang berwenang dalampemerintahan Spanyol agar turut mencari solusi terbaik agar mampu mencegahCatalonia untuk memisahkan diri. Agaknya, perdana menteri Spanyol yang bernamaMariano Rajoy pun sedang mempertimbangkan untuk memakai hak konstitusionalnyadalam rangka mencabut status otonomi yang dimiliki oleh pihak Catalonia untukmelakukan pembubaran terhadap parlemen Catalonia apabila wilayah tersebut kianmeminta untuk melepaskan diri dari pemerintahan Spanyol. Sejalan dengandilakukannya berbagai upaya pencegahan baik dari pihak Spanyol sendiri maupunpihak – pihak lainnya seperti Uni Eropa, pencegahan terhadap kiat merdeka dariCatalonia mampu terlaksana apabila dilakukan upaya diplomasi yang baik. Mengingatpenolakan yang diberikan oleh pihak Uni Eropa terhadap niat Catalonia untukmerdeka, agaknya memberikan kejelasan bahwa walaupun Catalonia dinyatakanmerdeka, mereka tidak akan mampu berintegrasi dengan Uni Eropa. Hal inidiperkuat dengan adanya pernyataan dari pemimpin Uni Eropa bahwa mereka hanyaakan melakukan interaksi dengan Spanyol saja dan tidak dengan Catalonia.

Kenyataanini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Catalonia apabila meneruskankeinginannya untuk memerdekaan diri. Hal ini berkaitan dengan kelangsunganhidup Catalonia itu sendiri ketika telah memutuskan melepaskan diri dari negaraSpanyol maka dibutuhkan adanya interaksi dengan negara – negara lain dalamrangka menyokong pertumbuhan dari negara itu sendiri. Jikalau Uni Eropa yang telahmenjadi organisasi supranasional pun tidak akan mengakui keberadaan Cataloniamaka hal ini akan memberikan catatan buruk bagi perkembangan negara tersebut. Permasalahanyang dialami oleh Uni Eropa selanjutnya ialah perihal arus migran dan juga parapengungsi yang terus berlanjut. Selama kurun waktu dua tahun terakhir ini,Eropa telah mengalami arus migran dan krisis para pengungsi yang berasal dariSuriah, Irak, Afghanistan, dan negara – negara lainnya.13 Berbagaicara telah dilakukan oleh Uni Eropa dalam rangka mengelola krisis ini, namunnyatanya belum juga berhasil. Hal ini menimbulkan berbagai kritik yangditujukan pada Uni Eropa.

Disebutkan bahwa Uni Eropa tidak memiliki kebijakanmigrasi dan suaka yang efektif. Krisis ini pun kemudian menyebabkan perpecahanyang cukup besar di dalam Uni Eropa itu sendiri. Negara– negara anggota Uni Eropa yang menjadi tujuan utama para pengungsi menyebutkanbahwa krisis ini menunjukan solidaritas negara – negara di Uni Eropa sangatlahrendah. Krisis ini telah menjadi isu yang sangat sensitif karena berkaitandengan kedaulatan negara dan integritas teritorial secara luas.

Kemudian, UniEropa menjalankan kesepakatan dengan Turki berkaitan dengan arus migran dankrisis para pengungsi ini. Tidak hanya itu saja, namun perlindungan terhadapperbatasan keamanan blok luar kawasan pun dilakukan dalam rangka menjaga aruspengungsi dan mengurangi kemungkinan munculnya para pelaku terorisme. Kontrol terhadaptekanan migrasi ini kemudian dilakukan oleh beberapa negara seperti Jerman,Denmark, Swedia, dan Austria dalam rangka menjaga arus para pengungsi yangmemasuki wilayah perbatasan mereka. Permasalahan yang berkaitan dengan arusmigran dan krisis pengungsi ini telah menunjukan bagaimana kemampuan negara –negara yang ada di Eropa dalam rangka melakukan integrasi para kaum – kaum minoritasterhadap kebudayaan dan masyarakat Eropa secara luas.

Pun adapula kekhawatiranakan terjadinya ketegangan sosial diantara para pengungsi dengan para penduduklokal. Selanjutnya,permasalahan yang berkaitan dengan terorisme menjadi isu yang dihadapi oleh UniEropa akhir – akhir ini. Pemerintahan Eropa dan Uni Eropa telah dihadapkan olehadanya peningkatan dalam jumlah peristiwa terorisme yang diladangi olehorganisasi teroris Islamic State maupunISIS.

Tercatat bahwa berbagai tindakterorisme yang menimpa negara – negara di Eropa ini kerapkali memiliki hubungandengan para organisasi terorisme di atas. Contohnya ialah peristiwa penyeranganyang terjadi di Nice, Prancis pada bulan Juli 2016 ketika dilaksanakan perayaanBastille Day. Pihak ISIS telahmengklaim pemberontakan tersebut merupakan campur tangan mereka. Peristiwatersebut tentunya bukan menjadi satu – satunya peristiwa terorisme yangterjadi. Berbagai jenis peristiwa terorisme dengan motif yang beragam punsemakin meningkat di kawasan Eropa.

Tentunya Uni Eropa pun sangatlah khawatirterhadap para pelaku tindak terorisme yang berpotensi menjadi seorang lone wolf?tindakan terorisme yangdilakukan seorang diri.14 Walaupunpemerintah Eropa dan Uni Eropa telah mengoperasikan berbagai macam alat untukmemerangi beragam tindakan terorisme dan kekerasan ekstrimis, namun peristiwaterorisme masih kerap terjadi pada kawasan Eropa. Beberapa pemimpin Uni Eropamenyebutkan bahwa mereka harus sangat waspada terhadap para pengungsi yangmemiliki kemungkinan melakukan tindakan terorisme. Dengan adanya kemungkinantersebut, permasalahan perihal arus migrasi dan krisis pengungsi ini sangatberkaitan erat dengan kasus terorisme. Hal ini disebabkan oleh adannyakemungkinan para pelaku terorisme pun menggunakan jalur yang sama dengan jaluryang digunakan oleh para pengungsi untuk memasuki wilayah negara – negara diEropa. Dalam upaya perlawanan terhadap kasus terorisme ini, Uni Eropa melakukanpembagian informasi antara otoritas nasional dan otoritasnya dan memperkuatkontrol terhadap perbatasan eksternal yang ada. Kemudian,permasalahan yang baru – baru ini dihadapi oleh Uni Eropa ialah perihal krisisutang yang dialami oleh Yunani dan munculnya kekhawatiran mengenai zona euro. Krisisutang yang dialami oleh Yunani ini telah mencuat sejak tahun 2009.

15 Halini kemudian memberikan pengaruh terhadap negara – negara anggota zona euro. Pengaruhini meliputi kekhawatiran terhadap struktur yang bersifat fundamental danperihal kelangsungan hidup dari zona euro itu sendiri. Seperti yang diketahuibahwa zona euro ini telah menjadi sebuah proyek integrasi yang menjadi andalandari Uni Eropa. Tidak tinggal diam, Uni Eropa kemudian melakukan berbagailangkah dalam rangka memperkuat disiplin fiskal pada negara – negara anggotazona euro ini. Walaupunbegitu, perekonomian Yunani tetap berada dalam kesulitan. Hal ini kemudianmengantarkan pada adanya Grexit atau Greece Exit yang menandakan keluarnyaYunani dari zona euro. Akan tetapi, jika Yunani keluar dari zona euro akanmemberikan implikasi yang luas berkaitan dengan kredibilitas dari Uni Eropa itusendiri.

Kemudian, Yunani kembali berjuang untuk mengembalikan keadaanperekonomiannya dengan menerapkan reformasi sejalan dengan apa yang telahdisepakati pada bulan Juli 2015 silam. Pemberian bantuan utang kepada Yunanikerapkali menjadi perdebatan panjang bagi negara – negara yang tergabung didalam zona euro. Dengan negosiasi yang telah dilakukan, negara – negara tersebutkemudian menjanjikan satuan langkah – langkah bagi pelunasan utang – utang yangdimiliki oleh Yunani. Namun, dengan catatan bahwa Yunani akan melakukan programreformasi perekonomiannya terlebih dahulu. Akan tetapi perdebatan kembalimencuat diantara Yunani, para negara zona euro yang hendak memberi bantuan, danInternational Monetary Fund (IMF)berkaitan dengan persyaratan dalam program bantuan terhadap Yunani.

Setelah terjadinyaperistiwa ini, dilakukan penguatan terhadap tata kelola perekonomian dalam zonaeuro khususnya dilakukan oleh Prancis dan Jerman. Permasalahan– permasalahan di atas merupakan tantangan – tantangan yang dihadapi oleh UniEropa dalam masa modern ini. Dari permasalahan tersebut, Uni Eropa agaknyaperlu melakukan pembenahan terhadap struktur dan sistem yang dijalankan agarmampu meminimalisir segala bentuk permasalahan yang mungkin akan terjadi dimasa mendatang. Hal ini tentunya perlu dilakukan dalam rangka menghindaripermasalahan serupa terulang kembali. 1 Union, E. (2012). How the European Union Works.

Brussels:Publications Office of the European Union.2 Ibid.3 European Union: “The European Union in Brief”. 2002.4 Ibid. 5 Cameron, F. (2010). The European Union as a Model for RegionalIntergration.

International Institutions and Global Governance on ForeignRelatios No. 10, 1-5.6 Archick, K. (2017). The European Union: Current Challenges andFuture Prospects.

Congressional Research Service, 1-18.7 Rosamond, B. (2016). Brexit and the Problem of EuropeanDisintegration. Journal of Contemporary European Research Volume 12, Issue4, 864-871.8 Ibid.

9 Ibid. 10 O’Reilly, J., Froud, J.

, , S. (2016). Brexit: Understandingthe Socio – Economic Origins and Consequences. Socio-Economic Review,Volume 14, Issue 4, 807–854.11 Adam, C.

(2014). The Independence Referendum and Debates onCatalonia’s Constitutional Future. Bij de Buren, 162-170.12 Casarramona, T. R. (2017). Catalonia’s referendum: Four views onwhether the vote should go ahead.

London School of Economics and PoliticalScience.13 Guild, E., Costello, C.,Garlick, M., & Moreno-Lax, V. (2015). The2015 Refugee Crisis in the European Union.

CEPS Policy Brief No. 332, 1-6.14 Burgess, M. (2003). A Brief History of Terrorism.

WashingtonD.C: Sage Publisher.15 Habermas, J. (2012). The Crisis of the European Union: A Response.Cambridge: Polity Press.

Choose your subject

x

Hi!
I'm Garrett!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out